Wednesday, June 07, 2006

Tulislah...

“Weh, kau ni apa cerita? Lama kau tak menulis. Aku masuk asyik ‘mimpi hitam’ je.” Kata seorang kawan aku yang agak rapat walaupun kami jauh.

Aku tersentak, kalaupun tak terharu.

Selama ini, aku fikir yang aku hanya ‘syok sendiri’ dalam menulis. Nampaknya aku mempunyai alasan lagi untuk terus menulis. Aku suka untuk menulis (walaupun tanpa alasan) tapi jarang benar aku habiskan penulisanku. Aku pesimis dengan penulisan sendiri, sebenarnya. Semacam ada inferiority complex yang tak mahu pergi. Aku lelah dan penat dengan ketakutan tapi aku ibarat anak kecil yang masih merengek menanti tetekan susu ibunya. Sepertinya aku tak mampu (atau tak mahu) untuk menghisap sendiri dari puting plastik buatan.

Nah, biar saja masa berjalan mengiringi dosa-dosa itu kerna dengan dosa, kita bisa saja menjadi dewasa. Kan itu katanya Rendra?

Jadi, dari mana harus aku berangkat?

“Apa yang kita panggil permulaan selalunya adalah penamat, dan untuk membuat penamat adalah membuat permulaan. Dari penamatlah kita bermula. “
T.S ELLIOT

Saturday, April 29, 2006

Lagi Sajak

Alasan Itu Pilihan atau Pilihan Itu Alasan?

Bintang itu pernah kupeluk
dulu
lama dulu

Waktu harapan umpama kultus
yang bergerak bagai siulan
kutu-kutu mabuk lewat malam

Waktu alasan melirik pilihan
untuk alasan lain
Memacu anganku waktu dulu

lama dulu

Tidak lagi sekarang
kerna rohnya telah pergi
Kosong
Dan bahuku lalu menjadi berat
untuk menghulur tangan
menggapai pelukan dulu

suaraku
suaramu
suara-suara mereka
hanya sayup-sayup
lepas
lesu
hilang dimamah keasyikan materi

Aku mahu alasan lagi

12 Januari 2006


Sajak di bawah ini sebenarnya lebih bersifat peribadi. Jadi, aku tidak berhutang apa-apa penjelasan rasanya. Pejam dan selam.

Dalam ingatan,
Omar bin Selak 1953-2005

ABAH
Saat dulu
Waktu kau masih ada
Aku selalu saja lupa
Lupa kata-kata
Lupa derita

Saat dulu
Waktu kau masih ada
Aku selalu memasuki ruang eskapism itu
Lupa jalan
Lupa pilihan

Saat itu
Waktu kau hampir saja pulang
Aku ingat
Yang selama ini aku lupa
Hidup hanya sekali
Dan kau sendiri takkan punya pilihan lagi

Saat ini
Aku menangis sekali
Aku menangis sekali lagi
Dan aku sedar
Kaca yang kau beri lama dulu
Tidak pernah pecah

Aku bisa lagi memilih

18 Disember 2006

Wednesday, April 26, 2006

Burung Hitam Membuka Kata

Sampai sini, ia lahir, dengan diselubungi latar yang hitam, sehitam pandanganku lewat hari ini, dengan harapan abjad-abjad putih itu akan selalu kelihatan, meluncur deras di sungai fikiranku, melontari ide-ide kebebasan yang sering muncul dan meronta-ronta, menangis dan menjerit-jerit, ada dan selalu di tinggalkan di sisi sampah-sampah sejarah, yang aku kais dan pungut, lagaknya si gila yang mencari-cari kemana pergi siumannya.
Dan aku persembahkan kata-kata, yang selalu tak bisa keluar dari mulut ini, menjadi baris-baris putih di latar hitam, sebaris kata yang membawa impian beribu jiwa, terusik seperti dejavu, secebis akal yang menyusur jauh ke dalam, mencari kunci untuk membuka kotak pandora si burung hitam.

Sajak

INDAHNYA MIMPI SI GILA
Aku selalu sukakan keindahan
Kau panggil itu
"yang luhur dan yang cantik"
Kata-kata indah si gila yang waras
Aku selalu sukakan keindahan
yang tampak dari luar
yang sembunyi di dalam
Kalaupun aku tak selalu indah
Kalaupun seminya aku tak pernah
berlangsung indah
Indah yang kau pandang
pada batasan semantiknya
Indahkah lampu neon yang terang?
Atau kelam bulan yang lebih pesona?
Kata-kata mereka
"yang luhur" itu yang selalunya indah
"yang cantik" itu yang selalunya indah
Dan aku?
Aku tak selalu indah
Seminya aku tak pernah berlangsung indah
30 Mac 2006